18 Februari 2008

Sebab Ta'lim, Si Anak Tidak Lagi Suka Menonton TV

Berikut ini penulis paparkan kisah lain yang juga berkenaan dengan dampak positif taklim rumah.

Sebuah keluarga, terdiri atas seorang suami, istri dan bbrp orang anaknya, menjalani hidup sebagaimana orang biasanya.
Si suami sibuk bekerja untuk mencari nafkah, istri sebagai ibu rumah tangga, anak2nya pada sibuk sekolah.

Sehingga akhirnya si bapak ini mendapat hidayah dari Allah SWT yang kemudian berlanjut ke istrinya untuk dapat menghidupkan amalan taklim rumah. Pada masa2 awal taklim, anak2 dalam keluarga ini merasa tidak betah, karena mungkin kebiasaan sehari-harinya kalau di rumah adalah bermain atau nonton TV.

Kalau kita ingat bagaimana isi atau tayangan dalam2 televisi sudah begitu bebasnya, anak2 kecil banyak yang juga menonton tayangan2 yang tidak seharusnya ditonton. Tapi kita maklumi, tidak bisa menghilangkan suatu kebiasaan buruk secara 100% dalam jangka waktu singkat, perlu tahapan2 dan proses.

Kedua orangtua ini tidak berputus asa, sambil berharap banyak pada Allah SWT agar anak2nya dijadikan anak2 yang sholih sholihah, kegiatan taklim tetap dibuat, bahkan setiap hari dengan waktu yang konsisten atau istiqomah, ketika semua keluarga sedang kumpul dan pada waktu luang atau santai, begitu juga si anak.

Semakin hari semakin banyak taklim, maka semakin banyak masuk ke diri keluarga ini mengenai berita2 akherat, bagaimana keadaan surga dan neraka, amal2 apa saja yang menyebabkan orang masuk ke dalamnya, keutamaan2 beramal, kisah2 Nabi dan sahabat terdahulu, dan informasi2 lain yang berkaitan dengan agama.

Kalau penulis ibaratkan, sebuah ruangan dengan 2 pintu. Dalam ruangan di isi dengan barang A. Kemudian pada saat itu juga dari sisi pintu lain di masukkan barang secara terus menerus tanpa henti, maka logikanya barang semula A akan semakin lama semakin terdorong keluar dari pintu sebelahnya.

Contoh lain, kalau kita punya ember dengan air dan kotoran2 di dalamnya, maka semakin banyak dan terus menerus kita tuangkan air ke dalam ember, maka kotoran akan semakin menaik, kemudian keluar dari ember.

Begitulah kisah dalam keluarga tersebut di atas, semakin banyak mendengarkan berita2 agama, maka secara otomatis keyakinan2 atau kebesaran2 benda2 dunia akan semakin keluar dari hati.

Nah, itulah yang terjadi pada diri si anak, lambat laun dengan adanya taklim tersebut, semakin wujud daripada pentingnya agama.
Sehingga suatu saat, si anak ini mulai berkurang aktivitas nonton TV-nya, sampai tidak suka lagi menyia-nyiakan waktunya di depan TV.
Orangtua anak tersebut bersyukur dengan keadaan itu, sehingga akhirnya si bapak berkata, "Nak, sekarang kita kan jarang nonton TV, bagaimana kalau kita jual TV ini saja, selain nonton TV banyak waktu terbuang sia2, bisa lebih hemat listrik?".

Maka anak tersebut menjawab, "Bapak dan ibu, kalau dijual ke orang lain, saya khawatir kita malah menjerumuskan orang lain tersebut ke dalam kesia-siaan TV ini, padahal kita kan sudah berhenti, nanti orang tersebut yang banyak lalainya". "Mendingan disimpan aja pak sampai lusuh (rusak) tanpa harus ditonton."

Subhanallah, orangtua si anak ini bersyukur pada Allah SWT dan bangga tdh anaknya yang baru berusia kurang lebih 10 tahunan ini.
Masih kecil sudah ada risau terhadap orang lain.

----

Pembaca budiman, melalui kisah ini bukan berarti ada sifat larangan menonton atau memiliki TV. Namun alangkah lebih baik jika porsi waktu buat TV dikurangi dan porsi waktu buat amal agama ditambah.
Inilah dampak taklim rumah yang cukup dahsyat, tanpa ada paksaan apapun, ALlah SWT sendiri yang merubahnya.
Insya Allah kita siap amal dan sampaikan.

Tidak ada komentar: